Wajah Kita, Diplomasi Kita

Oleh: Kazunari F.

Ini sebuah kisah nyata, apa adanya dan bukan hiperbola. Namun sekedar sebuah ilustrasi terhadap salah satu praktek diplomasi dan mutu layanan masyarakat oleh lembaga yang mendapat amanah dan tanggung jawab negara memberikan layanan kepada publik di luar negeri.

Sekitar 2 tahun yang lalu, penulis harus melegalisir ijazah di Kedutaan Besar Selandia Baru di Den Haag. Langkah pertama adalah menelpon kantor kedutaan menyampaikan maksud tadi dengan suasana santai dan bersahabat. Kemudian buat janji dan kebetulan bisa datang keesokan harinya.

Berada tepat di belakang gedung Mahkamah Internasional (Vredespaleis) serta dalam satu lokasi dengan Kedutaan Besar Australia, prosedur keamanan cukup ketat. Tetapi jauh dari kesan seram. Setelah dicek beberapa saat, penulis mendapat kartu khusus tamu. Selanjutnya, bergegas ke lift menuju ke kantor Kedutaan Selandia Baru di lantai 4.

Di depan pintu masuk area ruangan Kedutaan Selandia Baru, telah menunggu seorang pejabat kedutaan yang sebelumnya menerima telepon penulis. Dia menyambut dengan ramah, menerima berkas legalisasi sambil bersenda gurau. Sebelum pamit ke ruangan lain dia mempersilakan penulis duduk di ruang tunggu sekaligus menawarkan newsletter dan majalah promosi tentang beragam potensi Selandia Baru. Sewaktu menunggu, seorang staf yang lain mendekat dan menanyakan apakah penulis ada keperluan dan perlu bantuan. Penulis mengucapkan terima kasih karena sudah ada yang menangani.

Tidak terlihat banyak staf yang berseliweran. Apalagi yang bergerombol sambil ‘ngerumpi’. Selama menunggu penulis hanya melihat 2 orang staf saja, yang semuanya berkulit putih. Juga tidak terlihat tanda-tanda kesibukan pengurusan visa, dll. Padahal Selandia Baru merupakan daerah tujuan wisata cukup terkenal di kalangan wisatawan Eropa. Menurut data statistik, per Februari 2008, Negeri Kiwi ini menerima sekitar 2,4 juta wisatawan mancanegara. Selain itu, disamping Australia dan Kanada, Selandia Baru termasuk negara tujuan favorit bagi warga Belanda yang ingin berhijrah pasca Perang Dunia II, mengadu nasib di negeri orang (merantau), atau menghabiskan masa pensiun.

Sekitar 10 menit kemudian pejabat yang mengurus legalisir mendekati membawa dokumen yang sudah disahkan. Sepuluh menit menunggu di ruangan dan gedung yang tidak begitu luas namun terasa lapang, tertata rapi, bersih dan apik, bebas asap rokok, sejuk dan nyaman sepertinya hanya sekejap. Ketika penulis mau membayar, staf tersebut bilang cukup separuh dari jumlah biaya yang dia sebutkan sehari sebelumnya sambil menyebutkan alasannya. Setelah beramah-tamah dan berterima kasih penulis pamit.

Apa yang penulis alami merupakan aktualisasi dari motto: BERSIH, PEDULI, DAN PROFESIONAL (kebetulan ini menjadi semboyan sebuah partai reformis di Indonesia). Ada sebuah kepuasan. Tidak saja karena urusan dan keperluan dapat diselesaikan dengan baik dan cepat, tetapi juga mutu layanan yang profesional, staf yang ramah dan murah senyum serta tata ruangan yang nyaman dan sehat.

Wajah dan Diplomasi

Wajah para diplomat di luar negeri merupakan cerminan formal dari wajah negara asalnya. Mengapa demikian? Karena wajah formal sebuah negara di luar negeri dicerminkan oleh kedutaan atau perwakilan negara tersebut di luar negeri yang secara nyata diwakili oleh para diplomatnya yang terdiri dari para home staff dan local staff serta keluarga besar perwakilan.

Wajah di atas tidak merujuk pada wajah ganteng atau cantik atau atribut-atribut yang bermakna fisikal lainnya, namun wajah yang menyadari bahwa mereka adalah wakil yang mengemban fungsi melayani kepentingan bangsa, negara dan masyarakatnya di perwakilan masing-masing. Layanan yang tulus tanpa pamrih, ramah dan menyenangkan, bebas dari kesan feodalistik, bersahabat serta profesional merupakan wahana diplomasi yang handal. Sebaliknya, jika layanan yang diberikan berlawanan dengan karakter tadi, maka dapat dikatakan bahwa sebagian usaha diplomasi oleh perwakilan sebuah negara di luar negeri dinilai telah gagal.

Bagaimana dengan kondisi dan mutu layanan di perwakilan kita di luar negeri? Jawabannya barangkali relatif, bervariasi dari skor penilaian kurang hingga prima. Namun kalau ingin tahu lebih jauh secara lebih empiris, disarankan untuk sering-sering bersilaturahmi atau mengurus sebuah keperluan ke KBRI atau perwakilan kita di negara domisili masing-masing.

*retrieved on 09-09-2008 from pk-sejahtera.nl

1 Response to “Wajah Kita, Diplomasi Kita”


  1. 1 ahmad farisi February 15, 2009 at 7:26 pm

    assalamu alaikum….
    mas bangzeng, wah ternyata ada di sini juga. ini blog pemenangan pemilu ya? he he he…. . udah ga di Belanda lagi kah? ya moga sukses, maju terussss… harapan itu masih ada.


Leave a Reply




Mari Dukung PKS!!

Tarikh Hijriah

Penghasilan Online

banner.png Free Domain Free Web Hosting Earn $$ with WidgetBucks!

RSS Zenk’s Life

  • Travel Tips: The world for the minimal cost
    The world is the place to explore. Most of us have never even seen the half of it, due to what? We don’t really have a good enough excuse but the unbelievably high ticket prices . Sometimes the 5 star hotels cost almost twice less than a few hours in the air. With so many [...]
  • Storks are not the only safe way of flying a baby
    Those of people who write these articles sometimes struggle to find a way of introducing theme and making it relevant. But, today, it’s a pleasing coincidence that a bird should be the one creature associated with the birth of a baby. Any other choice would make it really difficult to link an article on pregnancy [...]
  • How to buy cheap air tickets
    Flying first-class is as impossible as buying your own plane. When we see the sums we need to pay to get a good seat we can’t help but feel robbed. For those who earn their money applying maximum effort it is demoralizing. Let me tell you how to make sure you don’t get bankrupt because [...]